STKUKTUR SOSIAL

Batasan Struktur Sosial dan Unsur-unsur Pokoknya

Struktur sosial ialah jalinan unsur-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat. Unsur-unsur sosial yang pokok menurut Soerjono Soekanto (1988: 8-9) meliputi antara lain:

  • Kelompok sosial.
  • Kebudayaan.
  • Lembaga sosial atau institusi sosial.
  • Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial.
  • Kekuasaan dan wewenang.

Unsur-unsur sosial itu dapat berubah bentuknya. Proses perubahan unsur sosial tersebut biasanya berjalan lambat, dapat mendadak berubah dengan cepat jika terjadi peristiwa-peristiwa seperti perang atau revolusi.

KELOMPOK SOSIAL

Batasan Kelompok Sosial

Kelompok sosial atau social group ada I ah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu yang hidup bersama saling berhubungan, saling mempengaruhi dengan suatu kesadaran untuk saling tolong menolong.

Persyaratan Kelompok Sosial

Setiap himpunan manusia belum tentu dapat disebut sebagai kelompok sosial, baru dapat disebut kelompok sosial apabila telah memenuhi beberapa persyaratan tertentu, yaitu:

  1. Setiap anggota kelompok tersebut hams sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam kelompok itu.
  3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain sebagainya. Mempunyai musuh yang sama dapat pula menjadi faktor pengingat/pemersatu.
  4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku. (Soerjono Soekanto, 1982: 111)

 Terbentuknya Kelompok Sosial dan Masyarakat Luas

Terbentuk atau terjadinya perpecahan kelompok sosial sebagai akibat dari interaksi sosial melalui komunikasi. Terjadinya interaksi yang demikian disebabkan karenasejakdilahirkan, manusiatelah memiliki keinginan untuk menjadi satu dengan manusia yang lain di sekelilingnya, yaitu masyarakat dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, manusia mempergunakan pikiran, perasaan, dan kehendaknya. Di dalam menghadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam dan lain sebagainya, manusia menciptakan rumah, pakaian, dan lain sebagainya. Agar fisiknya tetap sehat manusia hams makan, untuk dapat mengambil makanan sebagai hasil dari alam di sekitarnya ia mempergunakan akalnya, di laut manusia menjadi nelayan penangkap ikan, di hutan ia berburu, dan sebagainya. Semua itu menimbulkan kelompok-kelompok sosial karena pada hakikatnya manusia tidaklah mungkin hidup sendiri terisolir, karena itu ia memerlukan kelompoknya. Dengan jalan komunikasi terjadilah stimulasi dan respons yang mendekati tujuan, dengan menggunakan ikatan-ikatan yang dibentuknya, kebutuhan hidupnya akan terpenuhi. Hal demikian disebutkan bahwa kelompok sosial terbentuk karena adanya kebutuhan sosial manusia karena ia mempunyai kebutuhan pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan, sehingga perbedaan antara kepentingan pribadi dan kepentingan sosial hampir bahkan kadang, sama sekali- tidak tampak. Karena manusia yang bekerja adalah manusia yang sekurang-kurangnya berusaha untuk mempertahankan hidupnya, sedangkan jumlah terbesar kebutuhannya terletak di luar dirinya, maka manusia menjadi makluk sosial dan karenanya berkomunikasi. Sebagai konsentrasinya, maka terjadilalah integrasi atau pembentukan kelompok sosial dengan kehidupan yang lebih langgeng.

Emile Durkehim melihat pengelompokan manusia dari segi organisatorik fungsional. Bentuk mekanik merupakan bentuk yang naluriah ditentukan oleh pengaruh-pengaruh pertama terhadap manusia, yaitu ditentukan oleh ikatan geografik, biogenetik, dan keturunan lebih lanjut. Ikatan pengelompokan dalam bentuk ini hanya mencapai taraf solidaritas mekanik.

Berbeda halnya dengan ikatan pengelompokan bentuk kedua, yaitu bentuk organisatorik fungsional yang merupakan hasil dari kesadaran manusia, hasil dari keinginan yang rasional. Dalam bentuk pertama ditemukan integrasi normatif (berdasarkan ikatan norma); dalam bentuk kedua terbentuk integrasi yang merupakan hasil dari disiplin, peraturan-peraturan resmi bahkan undang-undang. Ferdinand Toennies menyebutkan bentuk pertama Geminschaft dan bentuk yang kedua Gesellscaft (Doyle Paul Johnson, 1988:181).

Selain daripada bentuk kelompok sesuai dengan ikatan naluriah otomatik dan organisatorik fungsional, masih dikenal bentuk-bentuk kelompok yang etnosenthk dan xenosentrik. Kelompok etnosentrik dimaksudkan adalah kelompok yang memegang teguh norma-normanya, mengusahakan penjauhan dari kelompok-kelompok lain agar interpenetrasi dari kebudayaan dapat dihindari sebanyak mungkin. Biasanya kelompok yang etnosentrik, merupakan kelompok yang statis dan hidup dalam isolasi. sebaliknya kelompok xenosentrik ialah kelompok lawan ekstrim dari kelompok etnosentrik, sehingga lebih menyukai kebudayaan dari luar kelompok daripada dari kelompoknya sendiri. Keadaan hidup pada umumnya menunjukkan keadaan kelompok di antara kedua kutub ekstrim ini.

Alvin Boskoff (1962: 3) melihat kelompok terutama dalam ikatan kehidupan kota, berpendapat bahwa setiap bentuk ikatan ditentukan oleh keadaan lingkungan serta penyesuaian diri manusia dengan lingkungan hidup ini. Dengan demikian, setiap pembentukan kelompok merupakan hasil eksperimen masyarakat/kelompok yang bersangkutan, yaitu hasil dari pengalaman yang dapat digolongkan kedalam bidang-bidang praktikal, intelektual, dan emosi. Terbentuknya masyarakat luas atau komunitas dapat terjadi karena adanya interaksi sosial antara anggota atau kelompok sosial melalui beberapa hal, antara lain:

  • Melalui pertukaran pengalaman tentang pengetahuan, keterampilan    teknikal, organisasi sosial dan mengenai wilayah mereka masing-masing.
  • Melalui adanya kebutuhan yang sama dalam bentuk biologi, nilai-nilai, dan tujuan yang diajarkan oleh kebudayaan.

Sehubungan dengan faktor pertukaran pengalaman yang dapat membentuk masyarakat luas atau komunitas. Alvin Boskoff (1962: 4) menyebutkan bahwa setiap interaksi akan berjalan sesuai dengan sifat karakter dari kelompok asalnya. Di lihat dari proses pembentuka masyarakat luas ini, dari kelopok aslinya terjadilah bentuk-bentuk dan fase perluasan kelompok, yaitu:

a)      Tingkat kelompok kecil {=group level).

b)      Tingkat community level (=regional level).

c)      Tingkat regional {=regional level).

d)      Tingkat nasional (=societal level).

e)      Intra-planetery society (=masyarakat dunia).

Klasifikasi tentang tahap-tahap terbentuknya masyarakat luas atau komunitas melalui proses pembentukan kelompok-kelompok dan sub kelompok, Mc Iver dalam bukunya The elements of Social Sciences (1956) menyebutkan bahwa perkembangan yang dilalui oleh setiap masyarakat (luas) adalah melalui tahap pembentukan kebudayaan. Sebagai tahap terendah adalah masyarakat desa (village community) yang telah melalui suatu tahap proses pematangan dan mencapai tingkat kebudayaan yang cukup tinggi. Pada fase berikutnya, ialah fase pembentukan ikatan kota (city community) dan fase pembentukan masyarakat bangsa (nation community) yang memudahkan pengertian dalam ikatan-ikatan internasional (Astrid Susanto, 1985:46). Menurut Mc Iver (Astrid Susanto, 1985: 47) ciri-ciri khas dari ikatan hidup pedesaan sebagai tahap terendah dari perkembangan yang dilalui suatu masyarakat luas atau koinunitas adalah:

a)        Bentuk kesatuan lebih jelas apabila diadakan perbedaan antara hak milik (apa yang ada dalam rumah seseorang) pribadi dan milik        penggunaan (biasanya tanah). Walaupun tanah sering merupakan milik desa, akan tetapi kepada penduduknya diberikan hak pakai, selama dipergunakan. Selanjutnya dalam ikatan desa anggota masyarakat sudah dapat mengharapkan adanya perlindungan dari sesama anggota masyarakatnya, dan inilah permulaan dari awal prinsip kegotong-royongan sebagaimana dikenal di Indonesia yang terjadi dari adanya hak pakai atas tanah/milik desa.

b)        Mulai adanya ikatan politik (dalam arti luas) dimana dalam ikatan desa biasanya kepala keluarga menjadi anggota dari rapat desa. Dalam masyarakat desa pemerintahannya memiliki batas-batas tertentu yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan anggotanya secara mandiri. Kemudian adat ditentukan oleh sesepuh setempat, demikian pula tentang hal-hal yang diperlukan para anggota masyarakat sehari-harinya.

c)        Struktur ekonomi desa biasanya terisolasi dari lingkungan ekonomisekitarnya walaupun gejala ini semakin hari semakin berkurang. Desa yang satu secara ekonomik biasanya terpisahkan dari desa yang lain tetapi tetap merupakan satu kesatuan. Mengenai pembagian pekerjaan sedikit sekali, kecuali pekerjaan bertani, sehingga terbanyak pekerjaan yang dilakukan adalah di rumah sendiri. Kesadaran akan nilai uang masih minim, biasanya yang terjadi adalah sifat barter, sistem perkreditan kurang dipahami oleh penduduk desa; peningkatan taraf hidup desa biasanya terjadi apabila suatu desa dengan mendadak dihubungkan dan menikmati kemajuan teknologi melalui hubungan transportasi dan kemunikasi dengan kota-kota terdekat.

Berdasarkan penilaian historik, sosiologik, ekonomik, dan politik diketahui bahwa pembentukan masyarakat dengan kelompoknya terjadi secara bertahap, yaitu:

a)        Ikatan darah

b)        Ikatan desa

c)        Ikatan feodal

d)        Ikatan kota

e)        Ikatan bangsa/Negara

Pembagian (perkembangan) ikatan ini tidak begitu berbeda dengan Plato yang melihat masyarakat serta perkembangannya melalui tahap-tahap:

a)        Masyarakat pengembara

b)        Masyarakat ikatan desa

c)        Masyarakat ikatan negara-kota

Menurut Plato ikatan masyarakat negara-kota (dahulu negara hanya terbatas pada satu kota perdagangan saja), mencerminkan tingkat kebudayaan manusia yang tinggi, tersempurna dan yang paling mungkin dicapai di dunia ini. Berbeda dengan Mac Iver yang hidup dalam abad ke-20, Plato berpendapat bahwa tujuan negara ialah mendekatkan manusia dengan Eidos, sedangkan Mac Iver melihatnya dari segi ekonomi dan politik.

Sehubungan dengan pembentukan masyarakat di atas, berikutnya Mac Iver dalam tulisannya The Elements of Social Sciences (1956) menjelaskan bahwa pada masyarakat modern, ikatan masyarakatnya terbagi pada:

a)        Ikatan komunitas (kelompok kecil).

b)        Ikatan asosiasi.

c)        Ikatan institusi (lembaga). (Astrid Susanto, 1985: 50)

Ikatan komunitas ialah ikatan berdasarkan hal-hal yang mencakup dan memenuhi sebuah kehidupan dan kebutuhan sosial manusia; ikatan asosiasi merupakan suatu ikatan yangdifokuskan pada beberapa/satu tujuan tertentu.

Ikatan institusi merupakan ikatan yang terjadi karena peraturan-peraturan yang telah dilembagakan, hal mana berarti bahwa mungkin saja perangkat peraturan dibuat oleh suatu lembaga ataupun karena suatu kebiasaan menjadi suatu lembaga/kebiasaan.

Dengan demikian, ikatan komunitas merupakan ikatan utama manusia dan unsur kehidupan manusia. Dalam masyarakat/komunitas manusia merasa diri sebagai integral daripadanya. Berbeda dengan ikatan komunitas, katan asosiasi merupakan suatu ikatan dengan usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu (dan terbatas) dalam masyarakat. Tanpa asosiasi kebutuhan-kebutuhan ini serta tujuan biasanya kurang jelas dan disadari manusia atau sukar direalisasikan oleh komunitas, justru karena sifatnya yang terlalu umum dan mencakupi segala-galanya. Sehubungan dengan ini, ikatan institusi merupakan ikatan-ikatan berdasarkan peraturan-peraturan tertentu, peraturan mana biasanya sudah melembaga (kebiasaan) karena telah lama berlaku dan ditaati suatu masyarakat. Lembaga biasanya merupakan alat untuk memberi wewenang kepada seseorang atau suatu badan untuk menjalankan atau mengawai suatu kegiatan, khususnya untuk menjamin agar tujuan dari asosiasi atau komunitas terjamin.

Dengan demikian, institusi merupakan kumpulan peraturan atau badan yang mengurusi pelaksanaan dan usaha realisasi tujuan yang telah ditentukan oleh kelompok/komunitas maupun asosiasi. Inilah pembagian yang dewasa ini biasanya dianut sebagai bentuk pengelompokan dan ikatan dalam suatu masyarakat luas yang modern.

Berakhir dan Berlangsungnya Kelompok Sosial

Hal yang dapat menyebabkan berakhirnya kelompok sosial dapat disebutkan apabila telah berakhirnya interaksi mental di antara anggota-anggota kelompok sosial tersebut. Interaksi yang demikian dapat terjadi karena semakin besarnya perbedaan daripada persamaan tujuan dan kepentingan anggota-anggota kelompok sosial. Demikian pula sebaliknya, bahwa kelompok sosial dapat terns berlangsung apabila terdapat ikatan tujuan dan kepentingan yang lebih besar daripada perbedaan yang terjadi di antara anggota kelompok sosial.

Interaksi mental bukan berarti masing-masing anggota kelompok harus selalu dalam keseragaman pendapat atau persesuaian di antara mereka, tetapi yang pokok adalah antara ketidaksepahaman dengan persamaan pendapat di antara mereka masih terdapat adanya keseimbangan. Pada umumnya para ahli berpendapat bahwa dasarnya ialah interaksi sosial.

Harold Lasswell (1969) menyebutkan bahwa unsur-unsur integritas anggota kelompok terhadap kelompoknya dapat diukur menurut derajat keterlibatannya dalam kelompok melalui perasaannya terhadap kelompoknya. Dalam suatu organisasi dengan kesadaran kelompoknya yang tinggi terdapat perasaan kerjasama, berpikir dan rasa kebersamaan di antara masing-masing anggota kelompoknya. Perasaan akan persatuan di antara masing-masing anggota kelompok timbul apabila anggota kelompok masing-masing mempunyai pandangan yang sama tentang masa depan bersama, dengan sadar mengetahui bahwa dalam mewujudkannya mereka memiliki tugas demi merealisasikan tujuan dan kepentingan bersama. Oleh karena itu, dasar pembentukan kelompok tersebut didasarkan pada adanya keyakinan bersama, harapan bersama, tujuan yang sama yang dihayati masing-masing dari anggota kelompok tersebut serta adanya ideologi bersama yang mengikat semua anggota kelompok. Karena itu pula, akhirnya, masing-masing akan sadar untuk turut berpartisipasi dalam mencapai harapan bersama dalam kelompok.

Munculnya partisipasi anggota kelompok dalam aktivitasnya pada kehidupan kelompok sosial dimulai dari adanya kebiasaan bekerja sama di antara masing-masing anggota kelompok serta adanya rasa solidaritas. Derajat partisipasi ini merupakan derajat intensitas kesediaan mereka bekerja sama dalam kelompok sosial ini. Kemudian, moral kerja kelompok secara keseluruhan merupakan derajat totalitas partisipasi dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh kerena itu, beberapa para ahli mendefinisikan partisipasi secara aktif sebagai adanya aktivitas atau kegiatan. Untuk jelasnya dapat terlihat dalam urian berikut:

  • Gordon W. Allport (R.A. Santoso Sastropoetro, 1988:12) menyebutkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan ego atau diri sendiri/ pribadi/ personalitas kejiwaan lebih daripada hanya jasmaniah/ fisik saja.
  • Keith Davis (R.A. Santoso Sastropoetro, 1988:51) menyebutkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional yang mendorong untuk memberikan sumbangan kepada tujuan/cita-cita kelompok dan turut bertanggung jawab terhadapnya.
  • R. A. Santoso Sastropoetro (1988: 52) menyebutkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan spontan dengan kesadaran disertai tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
  • Margono Slamet (1980:1) menyebutkan bahwa partisipasi adalah ikut serta mengambil bagian dalam suatu kegiatan dan ikut memanfaatkan serta menikmati hasil yang dicapai dengan persyaratan, meskipun seseorang itu memiliki suatu kemampuan dan adanya suatu kesempatan. Penekanan segi manfaat dan menikmati hasil dimaksudkan adalah mengerjakan sesuatu ikutterlibat, menikmati hasil sebagai hasil dari satu partisipasi apakah dalam bentuk fisik ataupun non fisik.

Berdasarkan batasan-batasan di atas, jelaslah bahwa partisipasi itu memiliki empat unsur pokok, yaitu adanya keterlibatan mental dan perasaan, menikmati hasil partisipasi, kesediaan memberikan sumbangan dan adanya rasa tanggung jawab.

Jenis partisipasi ini meliputi pikiran, tenaga, keahlian, barang, dan uang. Turut berpartisipasinya seseorang dalam suatu kegiatan, dapatterjadi karena kegiatan tersebut mengandung ide-ide baru yang dirasakan berguna bagi dirinya. Ide-ide baru sebagai inovasi merupakan gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seorang yang dapat menjadi pangkal terjadinya perubahan sosial yang merupakan inti dalam pembangunan masyarakat. Ide baru itu menyebar ke dalam masyarakat karena terjadinyaproses komunkasi, yaitu proses dimana pesan-pesan dioperasikan dari sumber ke penerima. Oleh karena itu, partisipasi dapat terjadi didahului oleh adanya proses komunikasi melalui interaksi antara individu dalam masyarakat yang bersangkutan.

 Teori dan Gagasan tentang Kelompok Sosial, Sifat, serta Klasifikasi

Tipe kelompok-kelompok sosial dapat diklasifikasikan clari beberapa sudut atau dasar kriteria ukuran yaitu:

a)    Berdasarkan besar kecilnya jumlah anggota kelompok, bagaimana  individu mempengaruhi kelompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Ukuran yang demikian ini dikemukakan oleh sosiolog Jerman, yaitu Georg Simmel. Dalam analisisnya mengenai kelompok-kelompok sosial, Simmel mulai dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakannya “monand” kemudian dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang, yaitu “dyad” serta “triad” dan kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu sebagai perbandingan, ditelaahnya kelompok-kelompok yang lebih besar.

b)    Berdasarkan derajat interaksi sosial dalam kelompok sosial. Beberapa sosiolog dalam hal ini memperhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok yang anggota-anggotanya sal ing kenal mengenal seperti keluarga, rukun keluarga dan desa. Begitu pula sebaliknya kelompok-kelompok sosial seperti di kota-kota, korporasi, dan negara, yang anggota-anggotanya tidak memiliki pertalian hubungan yang erat. Ukuran ini kemudian oleh para sosiolog di antaranya F. Stuart Chapin dikembangkan dengan memperhatikan tinggi rendahnya derajat keeratan hubungan antara anggota-anggota kelompok tersebut.

c)    Berdasarkan ukuran kepentingan dan wilayah. Misalnya, suatu community (masyarakat setempat) yang merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan sosial atas dasar wilayah yang anggotanya tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang khusus/ tertentu. Berlangsungnya suatu kepentingan, merupakan ukuran lain bagi klasifikasi tipe-tipe sosial. Suatu kerumunan misalnya merupakan kelompok yang hidupnya sebentar, oleh karena kepentingannya pun tidak berlangsung dengan lama. Lain halnya dengan community yang kepentingannya secara relatif bersifat permanen.

d)    Berdasarkan ukuran derajat organisasi.  Dalam ini ini kelompok sosial terdiri dari kelompok-kelompok yang terorganisir. Kelompok sosial yang terorganisir dengan baik, adalah negara, sedangkan kelompok sosial yang tidak terorganisir misalnya adalah suatu kerumunan.

Berikutnya Soerjono Soekanto (1982: 117) menambahkan bahwa tipe-tipe umum dari kelornpok-kelompok sosial dalam pula disebutkan, yaitu berdasarkan:

Kategori statistik

Kategori statistik adalah pengelompokan oleh ilmuwan atas dasar ciri tertentu yang sama, seperti misalnya, kelompok umur.

Kategori sosial

Kategori sosial merupakan kelompok individu-individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki bersama, misalnya Ikatan Dokter Indonesia.

 Kebudayaan

Dalam kehidupan sehari-hari orang begitu sering membicarakan tentang kebudayaan dan tak mungkin orang menghidar dan” kebudayaan, karena tak seorang pun yang tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap orang melihat, mempergunakan atau merusak kebudayaan. Beberapa definisi tentang kebudayaan dapat dilihat di bawah ini.

 Dalam karya berjudul The Reality of Culture, Milville J. Herskovits (1955) menyatakan bahwa ada lebih dari seratus enam puluh definisi tentang kebudayaan. Pengertian kebudayaan meliputi bidang yang luasnya seolah-olah tidak berbatas, sehingga sukarsekali mendapatkan suatu definisi yang tegas dan terperinci mencakup segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian itu.

Dalam pengertian umum, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu pengetahuan kemasyarakatan maka kesenian merupakan hanya salah satu bagian dari kebudayaan.

Apabila pengertian kebudayaan hendak dirumuskan dengan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964: 113) mengusulkan rumusan definisi kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan terknologi dan kebudayaan kebendaan {material culture) yang diperlukan oleh masyarakat untuk menguasai alam di sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan bagi keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Di dalamnya termasuk misalnya saja agama, ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.

Selanjutnya, cipta merupakan kemampuan mental, kemampun berpikir dari orang-orang yang hidup bermasyarakat dan antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu-ilmu pengetahuan, baik yang berwujud teori murni maupun yang telah disusun untuk diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang orang yang menentukan kegunaannya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau seluruh masyarakat.

Kebudayaan yang diberi arti demikian dimiliki oleh setiap masyarakat Tidak ada suatu masyarakat pun yang masih hidup tidak mempunyai kebudayaan. Perbedaannya bahwa kebudayaan masyarakat yang satu lebih sempurna dari kebudayaan masyarakat lain dalam perkembangannya untuk memenuhi segala kepentingan. Dalam hubungan ini, maka biasa diberikan nama “peradaban” (civilization) kepada kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan yang tinggi.

Tiga definisi tentang kebudayaan akan lebih memperjelas yang dimaksudkan dengan kebudayaan, yaitu:

Definisi klasik kebudayaan yang disusun oleh Sir Edwar Taylor (1871 menyebutkan bahwa kebudayaan adalah komplek keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan   semua kemampuan serta kebiasaan yang lain diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat (Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1987:58).

William A. Haviland (1988: 331) menyebutkan bahwa kebudayaan   terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat  raya yang berada di balik perilaku manusia dan yang tercermin dalam perilaku. Semua itu adalah milik bersama para anggota masyarakat, apabila orang berbuat sesuai dengan itu, maka perilaku mereka dianggap dapat diterima di dalam masyarakat. Kebudayaan dipelajari melalui sarana bahasa bukan diwariskan secara biologis dan unsur-unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai suatu keseluruhan yang terpadu.

Robert L. Sutherland (1961: 30-31) menyebutkan bahwa kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perikelakuan yang normatif mencakup semua cara atau pola-pola berpikir,merasakan, dan bertindak.

 Lembaga Sosial atau Institusi Sosial

Dalam Kamus Bahasa Indonesia sampai sekarang belum terdapat istilah yang mendapat pengakuan umum dari kalangan para sarjana sosiologi untuk menerjemahkan istilah Inggris, “Social Institution”. Ada yang mencoba menerjemahkannya dengan istilah “pranata” dengan alasan bahwa “Social Institution” mengandung unsur-umof yang mengatur perikelakuan para anggota masyarakat. Adapulayang menggunakan istilah “Bangunan Sosial”, istilah ini diduga merupakan terjemahan dari istilah “Sociale Gebilde” dalam bahasa Jerman yang lebih jelas menggambarkan bentuk serta susunan dari “Social Institution”. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964: 61) menggunakan istilah “Lembaga Kemasyarakatan” sebagai terjemahan dari “Social Institution”. Bukan karena terjemahan itu yang dianggap paling tepat, tetapi istilah lembaga selain menunjuk pada suatu bentuk, juga mengadung pengertian yang abstrak tentang adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri dari suatu lembaga.

Seperti tersebut di atas, Koentjaraningrat (1964: 113) menggunakan istilah “Pranata Sosial” untuk terjemahan istilah “Social Institution” dengan alasan menunjuk kepada adanya unsur-unsur yang mengatur perikelakuan para anggota masyarakat. Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Para ahli memberikan beberapa batasan mengenai lembaga sosial dalam uraian berikut:

Alvin L. Bertrand (1980: 120) menyatakan bahwa, institusi-institusi     sosial pada hakikatnya adalah kumpulan-kumpulan dari norma-norma     sosial (struktur-struktur sosial) yang telah diciptakan untuk dapat     melaksanakan fungsi masyarakat. Institusi-institusi ini meliputi kumpulan-kumpulan norma-norma dan bukan norma-norma yang berdiri sendiri-sendiri.

Menurut Joseph S. Roucek dan Roland L. Waren (1984: 93) institusi      adalah pola-pola {patterns) yang telah mempunyai kedudukan tetap atau pasti untuk mempertemukan bermacam-macam kebutuhan manusia yang muncul dari kebiasaan-kebiasaan dengan mendapatkan persetujuan dari cara-cara yang sudah tidak dipungkiri lagi,  untuk memenuhi konsep kesejahtaran masyarakat dan menghasilkan suatu struktur.

        Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1987: 224-245) menyebutkan bahwa lembaga yang digunakan dalam konsep sosiologi berbeda dengan yang digunakan oleh konsep umum lainnya. Sebuah lembaga bukanlah sebuah bangunan, bukan sekelompok orang dan juga bukan sebuah organisasi. Lembaga (institusi) adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting, atau secara formal, lembaga adalah sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia. Lembaga adalah proses-proses terstruktur (tersusun) untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.

J.B.A.F. Mayor Polak (1966: 253) memberikan batasan tentang lembaga sosial yaitu suatu kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting, sedangkan lembaga mempunyai tujuan untuk mengatur antar-hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting.

Robert Mac Iver dan Charles H. Page (1965: 19) mengartikan lembaga sosial sebagai tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar-manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok kemasyarakatan yang dinamakan association.

Leopold von Wiese dan Howard Becker (Soerjono Soekanto, 1982: 193) melihat lembaga sosial dari sudut fungsinya yang menyebutkan bahwa lembaga sosial adalah suatu jaringan proses-proses hubungan antar manusia dan antar-kelompok manusia yang berfungsi untuk memelihara hubungan-hubungan tersebut serta pola-polanya sesuai dengan kepentingan-kepentingan manusia dan kelompoknya.

Soerjono Soekanto (1982: 192) menyatakan bahwa lembaga sosial  adalah merupakan himpunan daripada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. wujud yang konkret dari lembaga sosial ini adalah asosiasi. Sebagai contoh, universitas merupakan lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan, sedangkan Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga dan Iain-Iain adalah contoh-contoh asosiasi.

 STRATIFIKASI SOSIAL

Pengertian

Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.

Pitirim A. Sorokin ( Soekanto, 2006; 197) mengatakan bahwa sistem lapisan sosial merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat memiliki kedudukan dalam lapisan atas. Mereka hanya memiliki sedikit sekali atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah. Menurut Pitirim A. Sorokin (Soekanto, 2006:198) stratifikasi berasal dari kata stratum yang berari lapisan. Lebih lanjut Sorokin menjelaskan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat/ hierarkis. Dasar dari pembedaan ini adalah tidak adanya keseimbangan dalam distribusi hak dan kewajiban. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki.

Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.

Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi.

Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.

Dimensi Stratifikasi Sosial

Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama.

Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai.

Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional.

Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat.

Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk stratifikasi melingkar ini terutama berkaitan dengan dimensi kekuasaan.

Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial. Ketiga cara tersebut adalah dengan pendekatan objektif, pendekatan subyektif, dan pendekatan reputasional.

Stratifikasi merupakan suatu fenomena sosial yang telah menjadi ciri dari setiap masyarakat di manapun dan dari dulu sampai sekarang. Plato (Russell, 2004:147) seorang filsuf  klasik Yunani misalnya membagi warga negara menjadi tiga kelas yakni rakyat biasa, kaum serdadu dan golongan para pemimpin. Golongan para pemimpin memiliki kekuasaan politik. Jumlahnya lebih sediri dari dua golongan di bawahnya. Golongan para pemimpin ini pada mulanya dipilih oleh legislator, tetapi kemudian diganti berdasarkan keturunan. Seorang filsuf yang lain – masih dari Yunani – Aristoteles (Russell, 2004; 236)  menagatakan bahwa setiap orang harus dicintai sesuai dengan kelebihannya, yang lebih rendah harus mencintai yang lebih tinggi dari pada yang tinggi mencintai yang lebih rendah; para isteri, anak-anak, rakyat, harus memberikan cinta kepada suami, orang tua, monarkhi secara lebih dari pada suami, orang tua, monarkhi berikan kepada mereka.

Sifat Stratifikasi Sosial

Sifat dalam stratifikasi sosial dapat bersifat tertutup dan terbuka (Soekanto, 2006:202). Lapisan tertutup membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain baik yang perpindahan horisontal maupun vertikal. Sebaliknya dalam lapisan yang terbuka setiap masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha sesuai dengan kecakapannya sendiri untuk naik ke lapisan atas.

Lapisan tertutup lebih didasarkan pada faktor-faktor yang bersifat ascribed,  suatu lapisan yang terjadi bukan karena usaha atau kegagalan seseorang melainkan karena berdasarkan kelahiran. Menjadi putra mahkota di Jepang, pangeran di Inggris atau di kerajaan Yogyakarta bukan karena pendidikan, melainkan karena kelahiran berdasarkan tradisi masyarakat itu sendiri. Ini berarti bahwa tidak setiap warga negara Inggris dapat menjadi pangeran Inggris, dan tidak setiap warga Jepang akan dapat menjadi putra mahkota Jepang. Lapisan sosial yang tertutup ini banyak dijumpai dalam sistem kasta. Lapisan terbuka lebih didasarkan oleh faktor-faktor prestasi atau usaha seseorang. Lapisan terbuka dianuti oleh hampir semua masyarakat modern dewasa ini.

Kelas-Kelas Dalam Masyarakat

Kelas sosial (Soekanto, 2006:207) adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, dan kedudukan mereka itu diketahui serta diakui oleh masyarakat umum. Kelas sosial ini bisa didasari oleh ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan,  kehormatan dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.

Ada pula yang menggunakan istilah kelas hanya untuk lapisan yang berdasarkan atas unsur ekonomis. Sementara itu, lapisan yang berdasarkan atas kehormatan dinamakan kelompok kedudukan (status group). Menurut Joseph Schumpeter, kelas-kelas dalam masyarakat terbentuk karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata.

Berdasarkan hal tersebut di atas, kelas memberikan fasilitas-fasilitas hidup yang tertentu bagi anggotanya. Misalnya, keselematan atas hidup dan harta benda, kebebasan, standar hidup yang tinggi sesuai dengan kedudukan yang dalam arti tertentu tidak dipunyai oleh warga kelas yang lainnya.

Selain itu, kelas juga memengaruhi gaya dan tingkah laku hidup masing-masing warganya karena kelas-kelas yang ada dalam masyarakat mempunyai perbedaan dalam kesempatan-kesempatan menjalani jenis pendidikan atau rekreasi tertentu

Kriteria Menggolongkan Anggota Masyarakat Dalam Suatu Lapisan

Ukuran Kekayaan

Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk  dalam lapisan atas. Kekayaan tersebut dapat dilihat pada bentuk rumah, mobil pribadi, cara menggunakan pakaian dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Ukuran Kekuasaan

Barang siapa memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atas.

Ukuran Kehormatan

Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran kekayaan dan kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat teratas. Ukuran ini banyak dijumpai dalam masyarakat-masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau yang pernah berjasa.

Prinsip-prinsip Umum Stratifikasi Sosial

  1. Stratifikasi sosial merupakan karakter dari setiap komunitas masyarakat.
  2. Stratifikasi sosial bersifat universal dan berubah-ubah
  3. Stratifikasi sosial akan selalu ada pada setia generasi
  4. Stratifikasi sosial didukung oleh pola-pola kepercayaan.

Distribusi Kekuasaan

Hak-Hak Istimewa dan Prestise yang Tidak Merata. Kekuasaan didefenisikan sebagai kemungkinan individu atau kelompok untuk memaksakan keinginan meraka kepada yang lainnya, bahkan bila mendapat penolakan dan pertentangan dari orang lain. Pada saat anda memaksakan keinginan anda terhadap orang lain yang tidak ingin dikontrol oleh anda, anda berarti memiliki kekuasaan. Penggunaan paksaan merupakan manifenstasi yang paling nyata dari kepemilikan kekuasaan

Privilege

Privilege mengacu pada hak, keuntungan dan kekebalan yang diasosiasikan dengan suatu posisi hirarki. Distribusi privilege membagi masyarakat ke dalam kelompok yang memiliki dan yang tidak memiliki. Kelompok strata atas memiliki kekebalan, pendapatan, dan hak-hak prerogatif, kebebasan, dan pilihan-pilihan yang kurang sesuai dengan strata bawah. Privilege memiliki dua aspek utama yakni ekonomi dan kultural.

  1. Beberapa privilege secara langsung dihubungkan dengan posisi ekonomi individual. Orang-orang dengan kesejahteraan yang lebih besar dapat memperoleh banyak keuntungan seperti pelayanan kesehatan yang baik dan dapat menghindari setiap kesulitan hidup.
  2. Norma-norma budaya dapat meberikan keuntungan atau ketidakberuntungan kepada orang-orang tertentu

Prestige

Prestige mengacu pada distribusi kehormatan dan status sosial. Dalam masyarakat pada umumnya ada kelompok yang memiliki prestige yang tinggi, namun ada pula kelompok masyarakat dengan prestige yang rendah.

Macam-macam / Jenis-jenis Status Sosial

  1. Ascribed Status
    Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
  2. Achieved Status
    Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
  3. Assigned Status
    Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.

Sifat  Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru

Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.

Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi.

Stratifikasi Sosial Campuran

Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus. Ia harus menyesuaikan diri terhadap dua stratifikasi yang ia anut

Bentuk-bentuk Mobilitas Sosial:

Mobilitas Sosial Horizontal

Di sini, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan individu yang melakukan mobilitas.

Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan individu. Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi

Vertikal naik

Status dan kedudukan individu naik setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.

Vertikal turun

Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.

Mobilitas antar generasi

Ini bisa terjadi bila melibatkan dua individu yang berasal dari dua generasi yang berbeda.

 PERUBAHAN SOSIAL

 Mengenai batasan perubahan sosial dapat dilihat dalam beberapa definisi dari para ahli berikut:

Kingsley Davis, John Lewis Gillin dan John Philip Gillin, dan Samuel      Koenig (Soerjono Soekanto, 1982: 306-307) masing-masing  menyebutkan:

Kingsley Davis, memberi arti perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis menyebabkan timbulnya perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikannya, yang kemudian menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi politik.

John Lewis Gillin dan John Philip Gillin mengartikan bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, karena ada perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi atau adanya disfusi serta penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

Samuel Koenig mengartikan bahwa perubahan-perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab yang intern dan ekstern.

  1. Selo Soemardjan (1962: 379) mendefinisikan perubahan sosial sebagai    segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi pada sistem sosialnya  termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perikelakuan di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
  2. Wilbert More (Robert H. Lauer, 1989: 4) menyebutkan bahwa  perubahan sosial itu meliputi perubahan struktur tentang pola-pola perilaku dan interaksi sosial.

 Sebab-sebab Terjadinya Perubahan Sosial

            Sebab-sebab terjadinya perubahan sosial dapat diterangkan menurut pendapat para ahli berikut:

  1. Raymond Firth (1960: 241-242) menyebutkan sebab terjadinya perubahan sosial karena penggerak tertentu dalam masyarakat yang bisa datang dari luar atau dalam masyarakat. Yang datang dari dalam  adalah daya gerak berupa pendapatan baru di lapangan teknik, perjuangan perseorangan untuk memperoleh tanah dan kekuasaan, perumusan baru dari paham-paham orang kritis yang dianugerahi bakat-bakat istimewa (para ahli atau filsuf), tekanan jumlah penduduk  atas mata pencarian, dan barangkali perubahan iklim. Sebab yang datang dari luar, untuk sebagian terletak dalam lingkungan pergaulanitu sendiri dan untuk sebagian lagi terletak dalam kekuatan berekspansinya peradaban.
  2. Alvin L. Bertrand (1980: 106) berpendapat bahwa perubahan sosial  disebabkan oleh faktor adanya komunikasi, yaitu proses dengan mana informasi disampaikan dari individu yang satu kepada individu lain. Sedangkan yang dikomunikasikan adalah suatu gagasan-gagasan/ide- ide atau keyakinan maupun hasil budaya yang berupa fisik.
  3.  Robert Sutherland dkk. (Astrid S. Susanto, 1985: 165) menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial adalah  faktor adanya inovasi (penemuan baru/pembaharuan), invensi (penemuan baru), adaptasi (penyesuaian secara sosial dan budaya), adopsi ,  (penggunaan dari penemuan baru/teknologi).
  4. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964: 489-490) menyebutkan pada umumnya dapat dikatakan bahwa sebab-sebab terjadinya perubahan sosial adalah dikarenakan adanya pengaruh dari dalam dan luar masyarakat. Sebab-sebab yang bersumber dari dalam masyarakat itu sendiri, misalnya bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru (invention), pertentangan (conflicts) antar  golongan, dan pemberontakan atau revolusi yang terjadi dalam masyarakat. Apabila sebab-sebab perubahan sosial itu bersumber dari dalam masyarakat, maka biasanya perubahan itu terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain yang melancarkan pengaruhnya pada kebudayaan dari masyarakat yang sedang dipelajari. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara kedua masyarakat, memiliki kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik, artinya masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat yang lainnya dan  menerima pengaruh dari masyarakat yang lain. Akan tetapi apabila hubungan itu berjalan melalui media komunikasi massa seperti radio, televisi, film, majalah, dan surat kabar, maka pengaruh itu datangnya hanya dari satu pihak saja yaitu dari masyarakat  yang secara aktif menggunakan media massa tersebut, sedangkan  pihak lain hanya menerima pengaruh dengan tidak memiliki kesempatan memberi pengaruh kepada masyarakat yang memengaruhinya.  Proses penerimaan pengaruh kebudayaan dari masyarakat lain yang  berbeda kebudayaannya dalam antropologi budaya dinamakan akulturasi (acculturation). Apabila pengaruh itu diterima tidak karena paksaan dari pihak yang memengaruhi, maka hasilnya dalam ilmu ekonomi dinamakan demonstration effect.  Apabila diteliti lebih mendalam apa sebabnya dapat terjadi suatu  perubahan dalam masyarakat, maka pada umumnya dapat dikatakan,  bahwa faktor yang diubah mungkin dengan sadar, mungkin juga   tidak dengan sadar  oleh masyarakat karena dianggap sudah tidak memuaskan lagi adanya. Adapun sebabnya masyarakat merasa tidak  puas lagi pada suatu faktor mungkin karena ada faktor baru yang lebih  memuaskan masyarakat sebagai pengganti dari faktor lama. Mungkin  juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa untuk  menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang telah  mengalami perubahan.
  5. Astrid S. Susanto (1985: 166) menyebutkan bahwa, sebab-sebab timbulnya perubahan sosial karena:
  •         Keadaan geografi tempat pengelompokan sosial.
  •         Keadaan biofisik kelompok.
  •         Kebudayaan
  •         Sifat anomi manusia.

Faktor Pendorong Perubahan Sosiai

Beberapa faktor pendorong terjadinya perubahan sosial dapat disebutkan antara lain:

  1. Adanya kontak dengan kebudayaan lain. Salah satu proses yang menyangkut dalam hal ini adalah difusi (diffusion). Difusi adalah suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan  dari orang perorangan kepada orang perorangan yang lain atau dari  satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Dengan difusi suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas  sampai umat manusia di dunia dapat menikmati kegunaan kemajuan peradaban, yaitu antara lain proses tersebut merupakan pendorong  bagi pertumbuhan suatu kebudayaan masyarakat manusia.
  2. Adanya sistem pendidikan formal yang maju. Pendidikan di sekolah mengajarkan kepada setiap orang (siswa atau mahasiswa) bermacam-macam ilmu pengetahuan untuk diketahui atau dikuasai. Oleh karena itu pendidikan memberi suatu nilai tertentu bagi manusia dalam membuka pikirannya secara lebih rasional atau cara berpikir ilmiah. Pendidikan mengajarkan pada setiap orang agar dapat berpikir lebih  objektif terutama terhadap penilaian manfaat kebudayaan dalam  memenuhi kebutuhan hidup manusia.
  3. Adanya sikap menghargai hasil karya orang lain serta keinginan untuk  maju. Apabila sikap yang demikian itu dimiliki oleh seseorang dan jadi  melembaga, maka masyarakat akan memberikan dorongan bagi usaha-usaha untuk mengadakan penemuan-penemuan baru, seperti  hadiah Nobel merupakan pendorong untuk menciptakan hasil-hasil karya yang baru.
  4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan sosialnya (open stratification). Pada sistem lapisan yang terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas yang berarti memberi kesempatan bagi orang perorangan untuk maju atau dasar kemampuan-kemampuan anggota  masyarakat.
  5. Adanya penduduk yang heterogen.  Masyarakat yang anggotanya terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda ras, ideologi, dan sebagainya mudah terjadi pertentangan yang menyebabkan suatu goncangan sosial, yang merupakan suatu pendorong bagi terjadinya perubahan dalam masyarakat.
  6. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu. Keadaan seperti ini apabila terjadi dalam waktu yang lama, dimana masyarakat mengalami tekanan-tekanan dan kekecewaan dalam menyebabkan timbulnya suatu revolusi dalam masyarakat.
  7. Orientasi ke masa depan.
  8. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.
  9. Adanya disorganisasi dalam masyarakat, sikap mudah menerima hal-hal yang baru, dan seterusnya.

Faktor Penghambat Terjadinya  Perubahan Sosial

Beberapa faktor penghambat terjadinya perubahan sosial antara lain sebagai berikut:

  1. Kurangnya hubungan suatu masyarakat dengan rnasyarakat lain,    sehingga keterasingan hidup anggota masyarakat yang demikian sering   kali tidak mengetahui perkembangan apa yang terjadi dalam masyaakal lain, padahal kebudayaan masyarakat lain dapat memperkaya kebudayaannya. Ini terlihat juga pada suatu kelompok masyarakat yang sangat terkungkung oleh pemikiran pola tradisi kebudayaannya.
  2. Terlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan dalam satu masyarakat, yang dimungkinkan oleh adanya keterasingan dan ketertutupan masyarakat tersebut dari pengaruh luar. Kondisi demikian dapat terjadi karena lamanya suatu masyarakat dijajah oleh masyarakat  lain.
  3. Sikap masyarakat sangat tradisional. Apabila suatu masyarakat sangat mengagung-agungkan tradisi masa lampaunya serta beranggapan bahwa tradisi tersebut secara mutlak tidak dapat dirubah, maka kenyataan seperti dapat merupakan faktor penghambat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat ini.
  4. Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuat sekali dalam  suatu organisasi sosial, mereka sangat menikmati kedudukannya  karena dimungkinkan oleh sistem lapisan-lapisan kedudukan enggan  melepaskan kedudukan yang sedang dipangkunya. Bahkan tidak  jarang mereka mengidentifikasikan dirinya dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya di dalam membentuk organisasi sosiai tersebut.
  5. Adanya rasa takut atau khawatir terjadinya kegoncangan pada transisi  kebudayaan. Hal ini dimungkinkan kekhawatiran adanya unsur-unsur dari luar yang memiliki derajat integrasi yang tinggi akan menggoyahkan integrasi yang telah ada dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
  6. Sikap tertutup terhadap hal-hal yang baru. Sikap seperti ini sering  dijumpai pada masyarakat yang pernah dijajah, misalnya mereka yangn pernah dijajah bangsa Barat, tidak jarang mereka mencurigai segala  sesuatu yang berbau Barat, pengaruh pengalaman sejarah pahit dari  bangsa penjajah membentuk sikap anti terhadap hal-hal yang berbau   Barat tersebut. Kondisi seperti ini pernah juga terjadi pada masyarakat  Indonesia pada tahun 1950-an.
  7. Asal hambatan yang bersifat ideologis. Hambatan seperti ini dalam perubahan sosial dapat ditemui pada masyarakat yang memiliki unsur-unsur kebudayaan rohaniah kuat sekali. Apabila ada unsur-unsur  budaya rohaniah tersebut mereka menggap hal ini sangat membahayakan kehidupan mereka, oleh karena itu mereka menolak hal-hal yang demikian.
  8. Adanya adat atau kebiasaan. Setiap masyarakat memiliki adat atau kebiasaan yang merupakan pola-pola perikelakuan bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan utamanya, dan keadaan  demikian sangat sulit dirubah. Adat atau kebiasaan tersebut dapat berupa kepercayaan, sistem mata pencarian hidup, cara-cara  berpakaian, pembuatan rumah dll.
  9. Adanya sikap masyarakat yang beranggapan bahwa hidup ini pada hakekatnya buruk  dan tidak mungkin diperbaiki.

Proses Perubahan Sosial

Beberapa bentuk proses perubahan sosial dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Proses perubahan sosial melalui evolusi sosial (social evolution).
  2. Proses perubahan sosial melalui mobilitas sosial {social mobility).
  3. Proses perubahan sosial melalui revolusi sosial (social revolution).

Tentang hal di atas, kita simak pendapat Bogardus (Astrid S. Susanto, 1985: 170-173) berikut ini:

Proses perubahan sosial melalui evolusi sosial (social evolution). Evolusi sosial merupakan perkembangan gradual yaitu karena adanya  kerjasama harmonis antara manusia dengan lingkungannya, dan dikenal bentuk-bentuk evolusi berikut:

  1. Evolusi kosmis (cosmis evolution).
  2. Evolusi organis (organic evolution).
  3. Evolusi mental (mental evolution).

Evolusi kosmis adalah taraf evolusi dalam bentuk pertumbuhan,’ perkembangan atau kemunduran hidup manusia.Evolusi organis adalah evolusi yang ditemukan dalam bentuk survival of the fittest, yaitu perjuangan manusia untuk mempertahankan hidupnya. Evolusi mental adalah evolusi sebagai akibat adanya perubahan     teknologi dan perubahan kebudayaan. Dalam hal ini dikenal pengaruh teknologi terhadap kelompok-kelompok sosial sendiri dengan akibat yang semakin kompleks dan kebudayaan sebagai contoh adanya gedung-gedung bertingkat dengan menggunakan teknologi arsitektur  dan kemajuan teknik lainnya.

  1. Proses perubahan sosial melalui mobilitas sosial (social mobility).Mobilitas sosial (gerakan sosial) ialah keinginan akan perubahan yang  diorganisasi. Sebab dari gerakan sosial ini ialah penyesuaian diri dengan keadaan (ekologi) karena didorong oleh keinginan manusia akan hidup dalam keadaan yang lebih baik, serta pemanfaatan dari  penemuan-penemuan baru. Pada umumnya gerakan sosial atau    mobilitas sosial ini terbentuk apabila ada konsep yang jelas, terlebihapabila konsep ini mempunyai strategi yang jelas pula. Suatu gerakan akan berakhir apabila suatu idea oleh para pengikutnya dirasakan telah terwujudkan atau bila keadaan telah berubah kembali. Akibat dari mobilitas sosial ini adalah adanya respons dan pandangan baru, akan tetapi apabila mobilitas ini berlangsung terlalu lama membawa akibat perubahan kepribadian terlalu parah, ketidakstabilan dalam masyarakat dan individu pun terjadi. Adanya lebih banyak rangsangan daripada perubahan yang nyata dapat terjadi karena perubahan hanya merupakan slogan atau rangsangan belaka yang tidak diwujudkan. Mobilitas sosial terbagi dua yaitu mobilitas yang mendatardan vertikal seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Mobilitas sosial banyak terjadi apabila terdapat hambatan-hambatan dalam perkembangannya atau apabila evolusi mengalami kegagalan yang disebabkan oleh tindakan dalam bidang otokrasi, terlalu banyaknya kepentingan kelompok/pribadi, adanya kelompok yang hendak mempertahankan status ekonomi, keuangan atau politiknya. Sebab itulah terdapat hubungan yang erat antara mobilitas sosial dengan revolusi sosial.
  2. Proses perubahan sosial melalui revolusi sosial (social revolution). Pada umumnya revolusi ditandai oleh adanya ketidakpuasan dari golongan tertentu, dan biasanya didahului oleh tersebarnya suatu ideabaru. Saat pecahnya suatu revolusi ditandai oleh adanya teror suatu coup d’etat. Dilihat dari segi sosialnya suatu revolusi pecah apabila dalam suatu masyarakat faktordisorganisasi lebih besar daripada faktor reorganisasi atau bila faktor-faktor adaptif lebih kecil daripada faktor non adaptif. Para ahli sosiologi berpendapat bahwa suatu revolusi terjadi dengan mendadak, bahkan ada revolusi yang tidak pernah pecah walaupun telah mencapai puncaknya. Menurut Gottschalk (Astrid S. Susanto, 1985: 174) revolusi terjadi melalui tahap-tahap inkubasi, tindakan (action), dan adaptasi (penyesuaian). Biasanya suatu revolusi sosial pecah, apabila terdapat suatu kegagalan dalam evolusi. Tahap revolusi dicapai karena kebutuhan akan perubahan (dalam bidang salah kelola), harapan-harapan akan berubah (menuju perbaikan) dirasakan tidak diwujudkan. Saat revolusi akhirnya pecah disebabkan karena masyarakat menganggap pimpinan mereka memiliki banyak kelemahan.

Bentuk Perubahan Sosial

Bentuk perubahan sosial dapat disebutkan meliputi perubahan bentuk struktur sosial, sistem sosial, organisasi sosial atau stratifikasi sosial. Pada struktur sosial terlihat bentuk perubahan-perubahannya pada jaringan hubungan antar-individu dalam masyarakat berupa hubungan jalinan sistem nilai-nilai, norma-norma, pola-pola perilaku individu kelompok sosial dan kebudayaan serta kaidah-kaidah masyarakat lainnya. Pada organisasi sosial terlihat bentuk perubahannya pada wadah pergaulan kelompok yang disusun secara jelas antara para petugas dengan yugas-tugasnya yang berhubungan dengan usaha mencapai tujuan tertenti yang umumnya berhubungan dengan aspek kesejahteraan dan keamanan para anggota organisasi sosial tersebut.

Pada stratifikasi sosial terlihat bentuk perubahannya pada kedudukan sosial seseorang karena faktor tertentu baik secara vertikal maupun secara horizontal. Misalnya buruh karena pendidikan dapat menjadi seorang ilmuwan, atau menjadi pedagang, komandan pasukan militer, dan lain sebagainya.

Yang berhubungan dengan bentuk perubahan struktur sistem dan organisasi sosial di atas misalnya suatu gerak masyarakat yang  berhubungan dengan ruang geografi atau terjadinya perpindahan tempat kelompok anggota masyarakat dari suatu daerah ke daerah lain dalam jumlah yang relatif besar, bentuknya yang terkenal di antaranya:

  1. Imigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara masuk ke negara lain.
  2. Emigrasi, perpindahan penduduk dari suatu negara luar atau pergi dan  negara asalnya.
  3. Transmigrasi, perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah     lainnya yang dikirim oleh pemerintah dalam suatu wilayah negara     tertentu.
  4. Urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota dalam satu wilayah negara tertentu.

Hal yang harus mendapat perhatian seorang peneliti yaitu terlebih dahulu memberi batasan dengan tegas mengenai ruang lingkup perubahan sosial. Hal ini disebabkan karena luasnya bidang dimana mungkin terjadi perubahan-perubahan sosial. Untuk memberikan batas tersebut, maka seorang peneliti perlu mengetahui bahwa perubahan sosial dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di daiamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial dapat menyebabkan timbulnya beberapa masalah, antara lain:

  1. Pada taraf pribadi atau individu menimbulkan masalah bagaimana mengamankan identitasnya, sebagai manusia, sebagai warga masyarakat, dan sebagai penganut tradisi kebudayaan tertentu.
  2. Pada taraf struktural menimbulkan masalah bagaimana mengorganisasi pola peranan dan kelompok-kelompok yang baru.
  3. Pada taraf kebudayaan menimbulkan masalah bagaimana membentuk tradisi baru yang akan dapat menjadi pedoman bagi warga masyarakat pada masa transisi.

Supijan Malik

Mahasiswa Pascasarjana Sp-1 PEKSOS STKS Bandung

PNS BPMPPKB Kota Cimahi