MENUJU CIREUNDEU SEBAGAI KAMPUNG WISATA

Konsep Pengembangan Masyarakat di Kota Cimahi

Penulis: SUPIJAN MALIK, PNS BPMPPKB Kota Cimahi

ABSTRAKSI

Pilihan Kebijakan tentang Cireundeu sebagai Kampung Wisata adalah bagaimana pemerintah Kota Cimahi mampu memperkuat tradisi dan budaya turun temurun yang menjadi “modal sosial” dan ciri khas masyarakat Kampung Adat Cireundeu, kemudian membawa seluruh elemen masyarakat untuk bergerak pada bidang industri pariwisata.

Pengembangan suatu wilayah menjadi Kampung Wisata, artinya memprioritaskan keberdayaan masyarakat lokal untuk menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan sendiri untuk keluar dari keterpurukan dan jerat kemiskinan.

Tidak mudah menjadikan suatu kawasan menjadi lokasi yang bisa bernilai pariwisata. Diperlukan sarana dan prasarana pendukung yang akan menjadikan kawasan ini menarik bagi para wisatawan untuk berkunjung. Namun yang lebih penting adalah penyiapan masyarakat dalam menghadapi kunjungan orang luar agar budaya mereka yang menjadi ciri khas itu akan semakin kuat, dan bukan sebaliknya malah tergerus oleh budaya-budaya lain yang dengan deras masuk sebagai konsekwensi dari layaknya sebuah kawasan wisata sebagai tempat para wisatawan lokal dan internasional berkunjung.

MELIHAT LEBIH DEKAT CIREUNDEU

Di Kampung Cireundeu,  dimana dulu lebih dikenal dengan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Leuwi Gajah, kita jangan berharap akan melihat pemandangan lahan sawah yang menghijau atau padi yang menguning, seolah ingin mengubur dalam-dalam peristiwa longsornya gunungan sampah tanggal 21 Februari 2005 yang merenggut 157 nyawa,  kini ditempat yang dulu gunungan sampah itu, kita akan banyak dimanjakan dengan pemandangan kebun singkong yang terbentang luas. Ya, tempat ini adalah tempatnya masyarakat kita yang dinobatkan sebagai “Pahlawan Pangan” karena masyarakat disini makanan pokoknya bukan nasi tetapi singkong.  Kampung Cireudeu adalah sebuah bukit kecil yang dihuni oleh 50 KK atau 800 jiwa yang memiliki tradisi berbeda. Sebagian penduduk Cireundeu, sejak ratusan tahun silam (sejak tahun 1918), tidak pernah menggunakan beras lagi sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat Kampung Cireundeu merupakan suatu komunitas adat kesundaan yang mampu memelihara, melestarikan adat istiadat secara turun temurun dan tidak terpengaruhi oleh budaya dari luar. Situasi kehidupan penuh kedamaian dan kerukunan “silih asah,  silih asih, silih asuh, tata, titi, duduga peryoga“. Mereka memegang teguh pepatah Karuhun Cireundeu: “Teu nanaon teu boga huma ge asal boga pare. Teu nanaon teu boga pare gi asal boga beas  Teu nanaon teu boga bias ge asal bisa ngejo Teu nanaon teu bisa ngejo ge asal bisa nyatu. Teu nanaon teu bisa nyatu ge asal bisa hirup.”

Masyarakat Cireundeu menyebut diri mereka penganut Sunda Wiwitan, Sunda Wiwitan sendiri mengandung arti Sunda yang paling awal dan bagi mereka agama bukan sarana penyembahan namun sarana aplikasi dalam kehidupan, karena itu mereka memegang teguh tradisi dan jarang sekali ditemukan situs-situs penyembahan. Pangeran Haji Ali Madrais yang diakui sebagai nenek moyang masyarakat Cireundeu mungkin mendapat gelar Haji bukan karena dia benar-benar pergi memenuhi rukun Islam tetapi mendapat sebutan Haji karena dianggap sebagai pemimpin atau imam, kata Undang Ahmad Darsa yang juga banyak menulis buku tentang sejarah dan perkembangan Sunda. Aliran kepercayaan Sunda Wiwitan masih eksis bertahan dan memiliki penganut setia di di Kampung Cireundeu. Namun dari segi keunikannya, warga kampung ini masih mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan mayoritas masih menjalankan ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan itu. Secara fisik Cireundeu memang kampung biasa, namun karena ketatnya menjalankan tradisi karuhun, kampung ini akhirnya dikukuhkan secara de facto sebagai kampung adat. Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Mereka percaya pada Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri Sunda mereka agar tidak berubah. Falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu, dan mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini. Ritual 1 Sura yang rutin digelar sejak kala, merupakan salah satu simbol dari falsafah tersebut. Upacara suraan, demikian warga Cireundeu menyebutnya, memiliki makna yang dalam. Bahwa manusia itu harus memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya. Baik dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. “Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan”. Selain itu masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka dengan tidak memakan nasi melainkan singkong. Pangeran Madrais pernah berkata, jika orang Cireundeu tidak mau terkena bencana maka pantang makan nasi. Sekarang terbukti, dimana orang lain bingung memikirkan harga beras yang makin naik, warga sini adem ayem saja karena singkongnya pun hasil kebun sendiri.

Kampung Cireundeu mempunyai filosofi kehidupan yang sangat unik, dimana nuansa hidup yang santun dalam nafas setiap insan warga kampung, mencintai lingkungan, budaya sunda dan kesenian khas masih terjaga dan terpelihara, sebagian masyarakatnya masih mempertahankan adat leluhurnya .

ANALISIS SITUASI DAN POTENSI KAMPUNG CIREUNDEU SEBAGAI KAMPUNG WISATA

Strenght ( Kekuatan )

  • Potensi alam yang menarik, indah dan bebas polusi
  • Hasil alam berupa singkong, buah-buahan, dan tanaman lainnya, menjadi daya tarik yang memiliki nilai jual wisata yang tinggi
  • Memiliki peluang pengembangan paket-paket wisata yang unik, dan menarik dengan nilai jual tinggi,
  • Masyarakat masih mempertahankan nilai seni budaya tradisional.
  • Lokasinya berdekatan dengan kota Bandung, yang sudah dikenal sampai mancanegara.
  • Dapat dijadikan inti pengembangan untuk daerah sekitarnya (konsep wisata system plasma).
  • Kemudahan akses menuju lokasi.

Weakness (Kelemahan)

  • Pandangan masyarakat umum (sebagai target calon pembeli/pengunjung) masih kurang terhadap jenis “ekowisata” di kampung.
  • Belum ada penanganan secara serius, terutama kegiatan ekowisata (lembaga swadaya masyarakat sebagai motor penggerak)
  • Sumber Daya Manusia yang masih perlu di optimalkan
  • Koodinasi dengan operator wisata (terutama hotel-hotel yang ada di sekitar Bandung dan Cimahi) belum terjalin
  • Kegiatan networking / pengembangan jaringan kerja belum dibentuk secara optimal.
  • Belum adanya program pemerintah, yang secara serius dan berkelanjutran mengembangkan wisata berbasis pengembangan masyarakat (community development)

Opportunities (Peluang)

  • Memiliki nilai jual yang tinggi melalui konsep wisata alam terpadu dengan konsep ‘Stop Global Warming’ dan Pengembangan Masyarakat.
  • Memiliki market yang besar di Jabotabek dan Bandung
  • Memiliki peluang market dari mancanegara/ekspatriat yang besar, karena mereka lebih bisa menghargai konsep wisata yang berwawasan lingkungan.
  • Memberikan kontribusi terhadap kegiatan ekonomi masyaraka sekitar proyek , sekaligus sebagai bentuk Community Development.
  • Dapat dijadikan paket wisata alam dengan konsep kerjasama dengan Hotel-Hotel yang berada di sekitar Cimahi dan Bandung.

Threats (Ancaman)

  • Bencana alam (gempa dan angin) sehingga orang menjadi takut
  • Krisis ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat
  • Dimungkinkan munculnya LSM / pihak – pihak tertentu yang memiliki kepentingan sendiri, sehingga memperlambat proses pengembangan.
  • Pengembangan kunjungan wisata di tengah permukiman penduduk, dimungkin timbulnya perubahan perilaku kearah negatif di tengah masyarakat.

SIAPA PENGUNJUNG KAMPUNG WISATA

Karena bentuk wisata pekampungan yang khas maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri. Terdapat beberapa tipe wisatawan yang akan mengunjungi kampung wisata ini yaitu :

  • Wisatawan Domestik

Wisatawan domestik ; terdapat tiga jenis pengunjung domestik yaitu :

  1. Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat kampung tersebut. Motivasi kunjungan : mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan. Pada perayaan tertentu, pengunjung tipe pertama ini akan memadati kampung wisata tersebut.
  2. Wisatawan dari luar daerah (luar propinsi atau luar kota), yang transit atau lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pekampungaan penghasil kerajinan secara pribadi.
  4. Wisatawan yang suka berpetualang dan berminat khusus pada kehidupan dan kebudayaan di pekampungan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.
  5. Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata). Pada umumnya mereka tidak tinggal lama di dalam kampung dan hanya tertarik pada hasil kerajinan setempat.
  6. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung dengan motivasi merasakan kehidupan di luar komunitas yang biasa dihadapinya.
  •       Wisatawan Manca Negara

  1. Wisatawan yang suka berpetualang dan berminat khusus pada kehidupan dan kebudayaan di pekampungan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.
  2. Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata). Pada umumnya mereka tidak tinggal lama di dalam kampung dan hanya tertarik pada hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung dengan motivasi merasakan kehidupan di luar komunitas yang biasa dihadapinya.

KONSEP KAMPUNG WISATA BAGI CIREUNDEU

Wisata Kampung, merupakan alternatif wisata alam/ ekowisata yang diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan berbagai sector kehidupan masyarakat, terutama peningkatan ekonomi (melalui tambahan pendapatan dari kegiatan kunjungan wisata). Wisata Kampung, diarahkan untuk kerjasama dengan perusahaan besar yang ada di sekitar kawasan; sebagai bentuk program CSR (Corporate Social Responsibility)/Community Development. Kampung Cireundeu dijadikan inti pengembangan daerah kunjungan wisata alam, dengan melibatkan unsur/potensi yang ada di kampung / kampung lain yang ada di sekitar wilayah ini. Melalui pengembangan Wisata Kampung di Cireundeu ini, diharapkan memberikan khasanah / kekayaan daerah kunjungan wisata baru yang ada di Cimahi. Pada akhirnya kunjungan wisatawan semakin meningkat.

Pengembangan Wisata Kampung Cireundeu diharapkan menjadi “Snow Ball / Bola Salju” yang akan semakin membesar pada saat digulirkan, dalam hal ini memberikan dampak pertumbuhan sector lain secara positif , misal perbaikan infrastruktur (terutama jalan dan penyediaan air bersih) di lingkungan permukiman penduduk.

  • Wisata Kampung Cireundeu, sasarannya diarahkan sebagai kegiatan wisata yang dikelola oleh masyarakat sendiri.
  • Dalam tahap awal, diperlukan tenaga / motor penggerak dengan tidak berorientasi semata-mata terhadap materi.
  • Wisata Kampung Cireundeu, dikembangkan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat. Untuk kegiatan pengembangan jaringan / pemasaran dan pengelolaan paket wisata
  • Proses sosialisasi saat ini masih dalam tahap tingkat Kepala Kampung. Untuk proses sosialisasi kepada masyarakat dilakukan secara bertahap dan simultan, melalui upaya menarik kunjungan tamu ber wisata kampung.

Salah satu alternatif untuk mengembangkan ekonomi rakyat adalah dengan mengembangkan kampung wisata. Pengembangan kampung wisata ini juga menjadi sangat relevan, seiring dengan terjadinya pergeseran model pembangunan pariwisata. Seperti dilaporkan oleh World Tourism Organization (WTO) tahun 1995 menunjukkan bahwa telah muncul perkembangan wisata alternatif yang dipandang lebih menghargai lingkungan alam dan penghargaan kepada kebudayaan.

Selain didukung oleh fakta di atas, kecenderungan wisatawan sekarang ini lebih rasional dan memiliki karakter yang kurang dapat diprediksi dimana tuntutan dan kepuasan wisatawan tidak hanya bersandar pada tindakan alam dan kelengkapan fasilitas wisata melainkan juga pada keleluasaan dan intensitas interaksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal. Berdasarkan pada fakta di atas, pembangunan kampung wisata kemudian menjadi arah baru bagi pengembangan Kepariwisataan didunia.

Dilihat kecenderungan perkembangan kepariwisataan sekarang yang lebih banyak melirik pada prinsip back to nature, maka pariwisata pekampungan merupakan suatu bentuk pariwisata dengan objek dan daya tarik berupa kehidupan kampung yang dengan kemenarikan khusus dalam masyarakatnya yaitu, panorama alamnya dan budayanya khususnya wisatawan asing. Kehidupan kampung yang dapat dijadikan sebagai sebagai tujuan wisata adalah sebagai obyek sekaligus sebagai subyek dari kepariwisataan, sebagai suatu obyek maksudnya adalah bahwa kehidupan pekampungaan merupakan tujuan bagi kegiatan wisata, sedangkan sebagai subyek adalah bahwa kampung dengan segala aktivitas sosial budayanya merupakan penyelenggara sendiri dari berbagai aktivitas kepariwisataan dan apa yang dihasilkan oleh kegiatan tersebut akan dinikmati oleh masyarakatnya secara langsung. Oleh karena itu, peran aktif dari masyarakat sangat menentukan kelangsungan kegiatan pariwisata.

Pengembangan kampung wisata akan membawa beberapa implikasi positif, seperti mengurangi pengangguran di kampung, peningkatan pendapatan masyarakat, optimalisasi daya dukung terhadap pembangunan dan terjaganya kelestarian lingkungan alam di pekampungan. Pengembangan kampung wisata juga akan bermanfaat dalam nengurangi arus urbanisasi dari kampung ke kota dan mengurangi konvergensi ketimpangan antara kampung dan kota. Usaha-usaha yang terkait dengan pengembangan kampung wisata tersebut akan menjadi alternatif pekerjaan yang dapat dimasuki oleh masyarakat setempat.  Pengembangan kampung wisata pada dasarnya dilakukan dengan berbasis pada potensi yang dimiliki masyarakat pekampungan. Pola pengembangan kampung wisata ini diharapkan akan mampu mendorong tumbuhnya berbagai sektor ekonomi kerakyatan seperti industri kerajinan rakyat, industri jasa-perdagangan, dan lainnya. Hal semacam ini diharapkan menjadi faktor daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke kampung.

Pengembangan ekowisata bertumpu pada upaya pelestarian sumber daya alam/budaya yaitu, melihat pada unsur penting yang menjadi daya tarik dari sebuah daerah tujuan ekowisata adalah (1) kondisi alam, (2) kondisi flora dan fauna, (3) kondisi fenomena alam dan (4) kondisi adat dan budaya. Dalam pengembangan ekowisata ini, dapat dilakukan misalnya dengan penggalian nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Pengembangan agro-wisata berkaitan dengan upaya untuk mengangkat hasil-hasil pertanian, seperti buah-buahan atau sayuran sebagai daya tarik bagi wisatawan agar berkunjung di daerahnya. Pengembangan tiap kampung harus melihat komoditas unggulan pada sector pertanian tiap kampung, agro-wisata dengan komoditi. Sementara pengembangan agro-industri terkait dengan upaya meningkatkan hasil pertanian, perikanan, peternakan maupun perkebunan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Upaya pengembangan kampung wisata ini, memerlukan sinergi dan kerjasama dari berbagai stakeholders, yakni dari masyarakat., birokrat, pengusaha dan unsur-unsur pendukung. Dalam hal ini, masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan maupun pengelolaan objek wisata. Bahkan,kalau perlu masyarakat dilibatkan jua pada tahap evaluasi dari pengembangan kampung wisata ini. Sebab pendekatan partisipatif akan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembangunan wisata. Dengan pendekatan partisipatif itu diharapkan masyarakat pada lokasi objek wisata sendiri akan memiliki rasa tanggung jawab untuk pemeliharaan daya tarik objek yang bersangkutan. Pada kenyataannya konsumen pariwisata sekarang bahwa kecenderungan wisatawan ingin wisata ke kampung, menjadikan kita boleh optimis bahwa kampung wisata akan menjadi alternatif penting untuk mengembangkan ekonomi masyarakat pekampungan. Lebih dari itu, pengembangan kampung wisata akan akan lebih berkelanjutan karena ditopang oleh potensi masyarakat setempat.

KOMPONEN SEBUAH KAMPUNG WISATA

Kampung wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. (Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)

Komponen Utama Kampung Wisata

Terdapat dua konsep yang utama dalam komponen kampung wisata :

  1. Akomodasi : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.
  2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi kampung yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.

Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. Inskeep : Wisata pekampungan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di kampung-kampung yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pekampungan dan lingkungan setempat.

DUA PENDEKATAN (PILIHAN KEBIJAKAN)

Pengembangan dari kampung wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah kampung menjadi kampung wisata:

1. PENDEKATAN PASAR UNTUK PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA

  •       Interaksi Tidak Langsung

Model pengembangan didekati dengan cara bahwa kampung mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan buku-buku tentang kampung yang berkembang, kehidupan kampung, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos dan sebagainya.

  •       Interaksi Setengah Langsung

Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.

  •       Interaksi Langsung

Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh kampung tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua. (UNDP and WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid: World Tourism Organization. Hal. 69)

  •       Menentukan Kriteria Kampung Wisata

Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria, yaitu :

  1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di kampung.
  2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari ibukota kabupaten.
  3. Besaran Kampung; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah kampung. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu kampung.
  4. Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah kampung. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
  5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.

Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu kampung untuk kemudian menetukan apakah suatu kampung akan menjadi kampung dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.

2. PENDEKATAN FISIK PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA

Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan sebuah kampung melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.

  1. Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum kampung untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut. Contoh pendekatan dari tipe pengembangan model ini adalah Kampung Wisata di Koanara, Flores. Kampung wisata yang terletak di daerah wisata Gunung Kelimutu ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk kampung menempuh cara memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
  2. Mengonservasi keseluruhan kampung dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk kampung tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata. Contoh pendekatan pengembangan kampung wisata jenis ini adalah Kampung Wisata Sade, di Lombok.
  3. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah kampung tersebut yang dioperasikan oleh penduduk kampung tersebut sebagai industri skala kecil. Contoh dari bentuk pengembangan ini adalah Kampung wisata Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain : kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional dan pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Kampung Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk kampung setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant, kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu boat.
  4. Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan kampung.
  5. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk kampung, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
  6. Pengembangan kampung wisata didasarkan pada salah satu “sifat” budaya tradisional yang lekat pada suatu kampung atau “sifat” atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan kampung sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.5

Prinsip dasar dari pengembangan kampung wisata

TIPE KAMPUNG WISATA

Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya kampung atau kampung wisata di Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.

  • Tipe terstruktur (enclave)

Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut :

  1. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
  2. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
  3. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinir, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk “menangkap” servis-servis dari hotel-hotel berbintang lima.

Pekampungan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional. Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.

  •  Tipe Terbuka (spontaneus)

Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan.

KAMPUNG WISATA MEMBUKA PELUANG BAGI COMMUNITY DEVELOPMENT

Secara umum community development dapat didefinisikan sebagai  kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum terwujudnya kampung wisata. Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik. Community Development memiliki tiga karakter utama yaitu berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan (sustainable). Sasaran yang ingin dicapai yaitu: sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Peningkatan kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses pengembangan wilayah atau institusi penunjang dalam proses industri pariwisata, kesetaraan (equity) dalam arti program yang dikembangkan dalam bentuk kemitraan antara pemerintah kota cimahi dengan masyarakat setempat atau institusi sosial lokal, keamanan (security) dimana tumbuh rasa aman dari berbagai ancaman yang datang dari luar yang dikhawatirkan akan merusak tatanan budaya yang telah ada, keberlanjutan (sustainability), merupakan upaya pemerintah kota yang sungguh-sungguh dalam menciptakan harapan baru dari industri pariwisata dan kerjasama (cooperation) dengan berbagai lembaga sehingga menciptakan networking dalam upaya mendukung kampung wisata.

Upaya memberdayakan masyarakat kaitannya dengan penyiapan sebuah kampung wisata adalah:

  1. Enabling, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Mengurangi campur tangan pemerintah dan lebih mengedepankan pola-pola yang partisipatif.
  2. Empowering, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat sehingga potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbesar kemampuan dan mendekatkan pada kemandirian
  3. Protecting, mencegah terjadinya eksploitasi dari pihak-pihak tertentu sehingga masyarakat dirugikan bahkan tertindas. Pemerintah perlu menjaga agar tujuan pengembangan wilayah menjadi kampung wisata tidak dikuasai oleh pihak yang hanya ingin memperoleh keuntungan dengan mengabaikan kepentingan masyarakat.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, bahkan pariwisata dikatakan mempunyai energy yang luar biasa untuk kesejahteraan masyarakat. Tidak jarang pula kegiatan pariwisata mampu membuat masyarakat mengalami metamorphose dalam berbagai aspeknya. Di samping berbagai dampak yang dinilai positif, hampir semua penelitian juga menunjukkan adanya berbagai dampak yang tidak diharapkan, seperti semakin buruknya kesenjangan pendapatan antara kelompok masyarakat, memburuknya ketimpangan ekonomi, dan lain-lain. Dampak-dampak negatif tersebut di atas disebabkan karena pengembangan pariwisata semata-mata dilakukan dengan pendekatan ekonomi dan pariwisata dipersepsikan sebagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan. Sementara itu banyak pakar yang menyadari bahwa pariwisata, meskipun membutuhkan lingkungan yang baik, namun bilamana dalam pengembangannya tidak memperhatikan daya dukung lingkungan serta memperhatikan kerentanan lingkungan yang mungkin muncul akibat kunjungan para wisatawan akan menimbulkan dampak negatif yang justru akan menimbulkan permasalahan baru di dalam masyarakat itu sendiri. Sejalan dengan dinamika, gerak perkembangan pariwisata yang mulai merambah dalam berbagai terminologi seperti, sustainable tourism development, village tourism dan ecotourism, merupakan pendekatan pengembangan kepariwisataan yang berupaya untuk menjamin agar wisata dapat dilaksanakan di daerah tujuan wisata bukan perkotaan. Salah satu pendekatan pengembangan wisata alternatif adalah dengan mewujudkan kampung wisata untuk pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dalam bidang pariwisata. Ramuan utama kampung wisata diwujudkan dalam gaya hidup dan kualitas hidup masyarakatnya. Keaslian juga dipengaruhi keadaan ekonomi, fisik dan sosial daerah pedesaan tersebut, misalnya ruang, warisan budaya, kegiatan pertanian, bentangan alam, jasa, pariwisata sejarah dan budaya, serta pengalaman yang unik dan eksotis khas daerah. Dengan demikian, pemodelan kampung wisata harus terus dan secara kreatif mengembangkan identitas atau ciri khas daerah. Tidak semua kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di desa adalah benar-benar bersifat kampung wisata, oleh karena itu agar dapat menjadi pusat perhatian pengunjung, desa tersebut pada hakikatnya harus memiliki hal yang penting, antara lain:

  • Keunikan, keaslian, sifat khusus yang berbeda dengan daerah lainnya;
  • Letaknya berdekatan dengan daerah alam yang luar biasa;
  • Berkaitan dengan kelompok atau masyarakat berbudaya yang secara hakiki menarik minat pengunjung;
  • Memiliki peluang untuk berkembang, baik dari sisi prasarana dasar, maupun sarana lainnya.
  • Networking dengan berbagai pihak baik pemerintah daerah lain dan terutama dengan sektor swasta pengelola kepariwisataan (hotel, transportasi dan dunia pendidikan dan pelatihan).

 

 DAFTAR PUSTAKA

Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial, Bandung: Alfabeta

Solihin , Dadang, Bappenas. 2005. Community Development, Jakarta: LPEM FEUI

UNDP and WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid: World Tourism Organization. Hal. 69)

Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)

Wikipedia, Ensiklopedia bebas, http://id.wikipedia.org/wiki/Desa_wisata